07/02/2024

"Berkelana Dalam Buku" cerita pendek

                 Berkelana Dalam Buku 

Semilir angin menjatuhkan dedaunan kering yang sudah siap untuk berteman dengan tanah, sunyi hanya terdengar suara daun yang kembali terseret oleh angin setelah ia jatuh ke tanah. Daun itu sudah menguning, kering tidak sama seperti kawanan daun lainnya yang masih berwarna hijau segar dan kuat menempel pada ranting pohon. Matahari sudah siap ditelan kembali oleh bumi, tergantikan dengan cahaya rembulan yang menemani. Walaupun begitu, teriknya matahari belum mampu disembuhkan oleh hadirnya angin, masih cukup lantang untuk membakar kulit. 

Aku memang menggemari duduk sendiri melamun dibawah bayangan pohon agar terlindungi dari sinar matahari, sebenarnya tidak masalah dengan matahari sepanas apapun sengatannya aku juga akan melawannya, apapun itu untuk menikmati udara yang menambah fokusku pada buku beratus halaman yang sudah aku pegang dengan kedua tangan dan setumpuk lainnya pada sisi kananku.

“Niskala, kamu tidak lelah hari ke hari membaca buku? Lagi pula sore-sore begini bukannya enak untuk bersantai?” Tanya laki-laki yang sudah beberapa menit duduk berdampingan dengan Niskala,perempuan itu terlalu larut dalam bacaannya hingga lima belas menit ditatap pun tidak dihiraukanolehnya. 

Niskala tersenyum dengan matanya yang kini sudah sepenuhnya beralih dari hal yang merupakan kesayangannya, buku dan Niskala seperti saling bersentuh, jiwa Niskala sudah sangat candu dengan segala diksi yang ada. “Kalau aku hanya menghabiskan waktuku untuk bersantai, bagaimana aku tahu tentang dunia Sagara. Sedangkan dengan buku ini dan ratusan halaman lain yang sudah aku telan tiap harinya mengantarkanku
pada kenyataan bahwa dunia ini begitu indahnya,” Jelas Niskala dengan perlahan, berharap laki-laki bernama Sagara yang ada didepannya mencerna dengan benar maksudnya.

“Lagipula, kita yang hidupnya dipelosok seperti ini mana bisa melihat dunia jika tidak meningkatkan rasa sadar kita bahwa literasi itu penting, membaca satu buku tidak akan pernah merugikan Sagara.” Sambung perempuan itu dengan semangatnya, siapa tahu setelah mendengarkan ajakannya Sagara mau bergabung untuk tenggelam dalam keseruan yang hadir bersamaan dengan imajinasi yang terbentang atas bantuan buku.
“Tapi, membaca itu membosankan Niskala. Mengantuk, aku melihat tebal sebuah buku saja sudah enggan menyentuhnya.” Keluh Sagara pada Niskala, kali ini perempuan itu menaruh buku paling tipis yang dia punya pada tangan Sagara. Niskala menyuruh Sagara untuk membaca sepuluh halaman awal saja dalm buku itu, membaca memang hal yang membosankan juga menurut Niskala, dulu. Namun, sekarang dengan percaya diri Niskala akan berkata kepada dunia bahwa membaca adalah hal yang paling hebat, Niskala seperti mengetahui seluruh isi dunia, berjelajah menuju belahan bumi lain dengan hanya duduk untuk membaca. 

Uji saja kemampuan pengetahuan yang dimiliki Niskala, bagaiaman pula pola berpikirnya, akan jauh berbeda dengan Niskala sebelum maniak dengan membaca.
“Sagara, membaca itu sebuah kebiasaan, semakin sering kamu membukanya semakin candu kamu dengan segala ilmu yang ada didalmnya. Percayailah aku, kebiasaan membacamu akan merubah cara pandangmu terhadap dunia.” Sagara mengangguk dan mulai membuka buku milik Niskala, mencoba membaca sepuluh halaman awal seperti kata Niskala. Perempuan itu kembali larut dalam buku yang tinggal setengah lagi dia tamatkan, sudah empat ratus lebih Niskala serap ilmu dari buku itu. Dalam benak Niskala terbesit niat tulus akan terus mengudarakan ajakan menerapkan kebiasaan berliterasi, agar generasi muda yang datang walau dari pelosok juga dapat merasakan gemerlap rasa mengitari bentari.

"Berkelana Dalam Buku" cerita pendek

                  Berkelana Dalam Buku   Semilir angin menjatuhkan dedaunan kering yang sudah siap untuk berteman dengan tanah, sunyi hanya ...